Archive for Februari, 2010

Manfaat Membaca

r. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca, yaitu di antaranya sebagai berikut:

  1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  2. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
  3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
  4. Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  7. Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
  8. Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
  9. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
  10. Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

فتح المعين

Comments (2) »

Automatic Created Playlist by www.autoplaylist.com
Make Your Own Mp3 & Video Playlist at www.autoplaylist.com

Leave a comment »

Nga’ Ada Judul

Tiada manusia yang benar-benar sempurna di dunia ini, dan kekurangan,,, bukanlah aib bagi manusia, itu juga merupakan pemberian dari yang Kauasa. Mungkin saat ini kita mengalami apa yang mungkin tidak pernah kita harapkan dan kita suka, pada saat seperti itu apakah kita pernah ingat dengan apa yang  telah di berikan Nya di hari yang lalu?? Atau pada saat itu juga pernahkah kita berfikir mungkin esok adalah hari yang membahagiakan untuk kita.

Apabila kita bisa berfikir seperti itu setiap saat maka tak kan ada rasa kekurangan dalam diri kita,

Kita dan Anak Jalanan

Pernahkan terlintas di pikiran Anda, Lebih hebat manakah kita dengan anak jalanan / pengamen? Apakah kita yang lebih hebat? Bagi Anda yang menjawab demikian Anda SALAH BESAR …tahukah apa yang membuat comment kita tersebut salah?

Mungkin bila kita melihat orang jalanan / pengamen yang selalu yang ada di benak kita adalah anak kita yang kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu hal yang lebih berharga di balik semua itu. Anak jalanan /pengamen mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki. Apa keistimewaannya? Tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk 1 tujuan yaitu mencari uang untuk hidup 1 hari. walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Namun bagaimana dengan kita? Kita tidak tiap hari merasakan kekejaman dunia, hanya pada waktu tertentu saja namun lebih parahnya kita selalu gampang berputus asa bila mengalami kegagalan dan yang lebih parahnya lagi kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punyai saat ini. Sekarang lebih hebat manakah ?kita atu anak jalanan?

7 Buah Kata

Aku tahu aku berbeda dari anak-anak lain. Dan aku amat membencinya. Ketika aku mulai bersekolah, teman-teman selalu mengejekku, maka aku semakin tahu perbedaan diriku. Aku dilahirkan dengan cacat. Langit-langit mulutku terbelah.Ya, aku adalah seorang gadis kecil dengan bibir sumbing, hidung bengkok, gigi yang tak rata. Bila berbicara suaraku sumbang, sengau dan kacau. Bahkan aku tak bisa meniup balon bila tak kupejet hidungku erat-erat.

Jika aku minum menggunakan sedotan, air akan mengucur begitu saja lewat hidungku. Bila ada teman sekolahku bertanya, “Bibirmu itu kenapa?” Aku katakan bahwa ketika bayi aku terjatuh dan sebilah pecahan beling telah membelah bibirku.

Sepertinya aku lebih suka alasan ini daripada mengatakan bahwa aku cacat semenjak lahir. Saat berusia tujuh tahun aku yakin tidak ada orang selain keluargaku yang mencintai aku. Bahkan tidak ada yang mau menyukaiku.

Saat itu aku naik ke kelas dua dan bertemu dengan bu Leonard. Aku tak tahu apa nama lengkapnya. Aku hanya memanggilnya bu Leonard. Beliau berparas bundar, cantik dan selalu harum. Tangannya gemuk. Rambutnya coklat keperakan. Matanya hitam lembut yang senantiasa tampak tersenyum meski bibirnya tidak. Setiap anak menyukainya. Tetapi tak ada yang menyintainya lebih daripada aku. Dan aku punya alasan tersendiri untuk itu.

Pada suatu ketika sekolah melakukan test kemampuan pendengaran; yaitu mendengar kata yang dibisikkan dengan satu telinga ditutup bergantian. Terus terang sulit bagiku untuk mendengar suara-suara dengan satu telinga. Tidak ada orang yang tahu akan cacatku yang satu ini. Aku tak mau gagal pada test ini lalu menjadi satu-satunya anak dengan segala cacat di sekujur tubuhnya.

Maka aku mencari akal untuk menyusun rencana curang. Aku perhatikan setiap murid yang ditest. Test berlangsung demikian: setiap murid diminta berjalan ke pintu kelas, membalikkan tubuh, menutup satu telinganya dengan jari, kemudian bu guru akan membisikkan sesuatu dari mejanya tulisnya. Lalu murid diminta untuk mengulangi perkataan bu guru. Hal yang sama dilakukan pada telinga yang satunya. Aku menyadari ternyata tak ada seorang pun yang mengawasi apakah telinga itu ditutup dengan rapat atau tidak. Kalau begitu aku akan berpura-pura saja menutup telingaku. Selain itu aku tahu dari cerita murid-murid yang lain bu guru biasanya membisikkan kata-kata seperti, “Langit itu biru” atau “Apakah kau punya sepatu baru?”.

Kini tiba pada giliran terakhir; giliranku. Aku berjalan ke luar kelas, membalikkan tubuh lalu menutup telingaku yang cacat itu dengan kuat tetapi kemudian perlahan-lahan merenggangkannya sehingga aku bisa mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh bu guru.

Aku menunggu dengan berdebar-debar kata-kata apa yang akan dibisikkan oleh bu Leonard. Dan bu Leonard, bu guru yang cantik dan harum, bu guru yang aku cintai itu, membisikkan tujuh buah kata yang aku telah mengubah hidupku selamanya. Ia berbisik dengan lembut, “Maukah kau jadi putriku, wahai gadis manis?” Tanpa sadar aku berbalik, berlari, memeluk bu Leonard erat-erat, dan membiarkan seluruh air mataku tumpah di tubuhnya.

Di kutib dari Resensi.net,editor by cahsiji

Grosir Busana Muslimah


Comments (2) »

Modal / Madil

Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:

“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000!!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”

Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”

Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. :)

***

Sahabat Resensinet, cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 50.000

Sahabat resensinet, seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.

Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari akhlak dan perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.

Sahabat, akhlak ialah bunga kehidupan kita. Merupakan seberapa bernilainya manusia. Dengan akhlak, rasa sayang dan senang akan selalu mengikuti kita, dan merupakan modal hidup.
Orang yang tidak mempunyai akhlak, meskipun ia berharta, tidak ada nilainya. Meskipun dia cantik, tapi jika sikapnya buruk dan tiada berakhlak, maka kecantikannya tiada berguna baginya. Begitu pula dengan orang yang berpangkat tinggi, tanpa akhlak, dia menjadi orang yang dibenci.

Website Pondok Pesantren Al-Quraaniyyah

Leave a comment »

Mencari Tuhan

Mencari Tuhan, haruskah ?

Dengan cara bagaimana ?

Haruskah mnencari tuhan dengan agama ?

agama yang benar itu seperti apa ?

Apa syarat sehingga benar di sebut Agama ?

keresahan saat mencari kebenaran, bisa sangat subyektif, keresahan adalah bekal pencarian, Kesalahan adalah buah dari ketidak pahaman, Tidak ada orang salah yang ada hanyalah orang yang tidak paham.

Mencari tuhan

Mungkin sudah bawaan setiap manusia, suatu saat akan bertanya tentang sesuatu yang tertinggi di luar dirinya. Dalam perkembangan sejarah manusia, pencarian tuhan terbagi dalam dua aliran utama: Tuhan itu memang ada atau kita yang meng_ada_kan, sesuatu realitas tertinggi ataukah suatu abstraksi tertinggi, Kita harus menghormati perbedaan ini, untuk mengurangi sekat perbedaan, kita bisa mencatat proses pencarian ini sebagai hal yang alami atau bisa juga sebagai titipan memory syurgawi.

bila tuhan di percaya ada, sering terpahami kalau takhta suci terlalu tinggi di langit, tidak terjangkau penghuni dunia, pencaharian akan bermuara kemana-mana,kerinduan akan tuhanpun bisa bermuara ke humanisasi tuhan, memanusiawikan tuhan agar mudah terpahami,tuhan yang bertingkah laku seperti manusia, medianya bisa apa saja: lagu, film, humor.

ada lagu bagus berjudul ”One of us” oleh joan osbourne, liriknya sarat ‘kerinduan’ ” God is great, God is good, what if god was one of us, just a slob like one of us, just astranger on the bus..”. kita tidak bisa bilang ini humanisasi yang kebablasan.

Era 90-an banyak film bioskop yang memanusiakan penghuni langit. seperti city of angle dari nicolas cage, high way to heaven nya michael london. para penghuni langit yang manusiawi, bisa main soft ball juga jatuh cinta. Sejak jaman micheal angelo sampai akhir abad 20, semua perwujudan tuhan dala film pasti ras orang kulit putih. baru akhir-akhir ini kulit berwarna bisa menjadi perwujudan tuhan, Bruce All Mighty. kerinduan akan tuhan sanggat memperhatikan isu sara, hebatnya makhluk tanah liat.

Saat isu feminisme merebak, identitas tuhan pun di pertanyakan. dalam bahasa ingris God menjadi HE, ini yang di protes. proses berujung pada tujuan bahwasegala bentuk agama dan asesorinya addalah hanya ciptaan kaum maskulin, untuk legitimasi otoritas. di tengah proses yang merebak, karena Amstrong menulis dalam buku sejarah tuhan, hebatnya bahasa arab kata Allah adalah maskulin tetapi kata al-Dzat adalah femminin.

hal-hal seperti ini adalah produk langit atau produk bukan langit, kita bisa berdebat panjang lebar karena tidak ada seorang pun yang berhak memonopoli kebenaran. atau kita mencoba memahaminya dengan arif, ciri orang yang sudah tercerahkan.

Di beberapa & -isme dikenal anak tuhan, anak dewa atau titisan dewa, ada juga fenomena perantara, orang-orang suci yang sudah meninggal maupun bewlum sebagai perantara do’a kita pada Tuhan. Apa benang merahnya dari hal di atas? penghuni dunia butuh penghuni langit yang dekat, yang manusiawi, yang mudah di pahami.

Haruskah agama &-isme humanis?

Dengan jalan bagai mana kita mencari tuhan? cara susah adalah bikin agama atau -isme baru. cara mudah adalah bergabung dengan komunitas yang sudah ada, bisa pemeluk agama lain, bisa juga -isme lain,. Nasehat bijak, bila suatu pemeluk agama (atau -isme) akhlaknya bagus, silahkan bertanya agama (atau -ismenya )nya apa, mulailah belajar dengan sepenuh hati. namun bila pemeluk suatu agama (atau -isme)akhlaknya jelek, sangat mungkin kita hanya tidak beruntung, kita bertemu sampel yang jelek, mulailah cari sampel yang lain.

para Nabi, para orang suci telah wafat 1500 tahun yang lalu bahkan lebih, berbahagialah mereka yang hidup di jaman para nabi dan orang suci. ada referensi suci tempat bertanya. apa yang membuat kita yakin akan sesuatu? Hanya kitab suci yang kita warisi.

Kitab suci, salah satu isinya adalah manual book untuk hidup di dunia. bila kita hanya mencari aturan hidup berbahagia di dunia, Undang-Undang bernegewra pun bisa menjadi kitab suci bagi kita. produk langit aaupun produk bukan langit, tidak ada seseorang pun yang berhak memutuskan, dan kita mencari apa yang kita pahami. mungkin boisa sanggatr subyektif, di sebut kitab suci karena isinya sempurna: mengatur dari hulu sampai hilir tentang manusia, dan isinya tidak saling bertentangan. bila ada yang bertentangan, kita bisa mengirimnya ke recycleBin dan pindah cari kitab suci lain, mulai dari awal.

Apa yang menjadi syarat di sebut agama atau -isme? benarkah agama punya Tuhan isme tidak punya Tuhan, apa untungnya? berdasarkan definisi peradaban tidak semua agama punya Tuhan. di Era banyak pilihan -isme memberi wajah yang ramah, lebih humanis di bandingkan agama, sebab pertama: agama memang tidak humanis, karena pada agama ada hukum, manusia tidak suka pada hukum. sebasb kedua: para pemeluk agama yang belum pari purna untuk menunjukkan keberadaanya lebih memilih peran sebagai malaikat penghukum dari pada malaikat pemberi berkah. public relation yang jelek.

Produk langit atau produk sejarah ? -isme produk sejarah, kita semua setuju. karena -isme isinya berubah terus tergantung isu hangat yang beredar. berubahnya bisa setiap tahun, bisa setiap bulan bisa setiap detik. yang bisa berubah memang terasa lebih bisa mengakomodasi keinginan namun menjadi tidak sakral. apa arti sakral, apa fungsinya? lebih mudah kita mengartikany asebagai suci tanpa campur tangan manusia. memang sangat subyektif. apakah semua agama produk langit atau produk sejarah? Bila cukup energi untuk meneliti literatur, akan tersaring mana yang produk sejarah, bukan berarti semua yang tersisa produk langit.

Isu yang berkembang, agama perlu di rekontruksi agar lebih humanis, agar pamornya tidak kalah di banding -isme. Wajah agama boleh berubah, karena ini hanya menyangkut penampilan pengikutnya, namun jangan isi agama. banyak agama yang telah di tingalkan pengikutnya karena mengakomodasi isu sesaat, jatuh menjadi produk sejarah.

Agama warisan

Kita harus menyadari di berbagai kelomnpok masyarakat, agama bukan suatu pilihan namun warisan orang tua yang harus di telan, kita paham atau tidak. setelah dewasa baru mencoba membenarkan pilihan tersebut. pernahkah terlintas pada kita untuk mengkaji dengan akal konsep-konsep mendasarnya, pernahkah kita mengkaji dengan nurani kebenaran ajaranya. sebuah proses panjang, sangat membutuhkan kejernihan akal dan kebersihan hati. Bila sangat disiplin menjalaninya mungkin kita akan bermuara pada kesadaran agung yang benar-benar agung bukan yang keagungan semu.

Beragama tanpa proses pengkajian akan mencapai titik kejenuhan, membosankan. terjebak rutinitas tanpa nyawa, di satu sisi berakhir menjadi fundamentalis dan di sisi lain berakhir menjadi agama baru yang serba boleh. yang pertama akan tercermin pada mudanya pengkafiran orang lain, hanya kelompoknya sendiri yan gbenar; sedangkan yang kedua akan mengkristal pada kekosongan jiwa. Kenapa untuk hal yang sangat mendasar, makhluk tanah liat seperti tidak pernah punya waktu untuk mengkajinya.?

Suatu saat kita berjumpa dengan orang pedalaman hutan belantara yang tidak se-(agama/-isme) dengan segala keterpencilanya. perenungan hatinya bermuara pada kepercayaan komunitasnya, Haruskah kita menyebutnya domba tersesat, atau menyebutnya kaum kafir? Tidak ada teladan yang bisa kita dapat dari orang yang meng-domba-sesat-kan oarang lain. tidak ada seorangpun yang berhak membela takhta suci dengan memaki, karena itu bukan makanan nurani. Bagaimana kita bisa yakin kepercayaan kita lebih bagus dari pada milik mereka, bagai mana bila mereka juga berangapan seperti itu. auatu perenungan beberapa generasi harus di ubah karena kedatanga orang asing yang belum teruji kemanusiaanya, kita akan terjebak debat yang amat melelahkan. hanya suri teladan dan waktu yang bisa membuktikan kebenaran.

Kata ” pedalaman hutan belantara” bisa juga di artikan pedalaman hutan gedung, mereka sama-sama terpencil. mereka yang di pedalaman hutan gedung berada pada keadaan keramaian dalam kesepian, informasi bersifat recycle bin begitu banyak, ilmu pencerahan jarang, terpencil. bahasa nurani dikondisikan tidak dipakai, bahasa demokrasi diwajibkan. Yang banyak itulah yang benar, dan kebenaran hanya boleh dipakai di relung hati tidak di publik. bila-beragama didefinisikan kebebasan ber-nurani, sangat mungkin saudara kita yang di pedalaman hutan belantara lebih beragama dari pada kita.

mahluk tanah liat memang berkecenderungan tamak, setelah memonopoli kebenaran, surga pun minta surga yang eksklusif, surga yang khusus untuk kelompoknya. malah kalau bisa di luar kelompoknya jangan ada yang diberi surga, jenis apapun. tidak ada penghuni surga yang tamak.

Apa yang diharapkan dari Agama & -isme

panduan untuk hidup di dunia. sukur kalau di daftar isinya ada panduan untuk hidup di akhirat. pengakuan ber(agama/-isme) tidak berarti apa-apa, bila tanpa mengamalkan tuntunanya. hidup di dunia selalu dihadapkan dalam dua pilihan, tidak semua makhluk tanah liat bisa dengan ihlas memilih kebajikan, sampai perlu dianjam dengan neraka atau di iming-imingi dengan surga, ciri keber-agama-an yang belum dewasa. lebih mudah untuk menurutkan nafsu daripada mendidik nafsu, lebih mudah marah daripada sabar, lebih mudah menasehati daripada dinasehti lebih mudah mencari pembenaran daripada kebenaran, lebih mudah jadi abangan daripada jadi kyai, lebih mudah jadi orang kebanyakan dari pada jadi orang yang mencerahkan, lebih mudah jadi orang gagal dari pada menjadi orang sukses.

Agama, jalan kebenaran, -isme apapun yang kita anut sekarang kita harus menjalankanya dengan penuh totalitas jasmani-rohani, akal-nurani. Suatu proses yang amat sanggat panjang. Tuhan ada atau tidak, pencarian itu tidak akan sia-sia, bisa untuk hasrat titipan memori surgawi atau bisa untuk hasrat alami.

Takhta tertinggi telah menjamin siapapun yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh, kelak akan bertemu dengan-Nya.

Website Pondok Pesantren Al-Quraaniyyah

Comments (4) »

MMK Cerpen Putu Wijaya

baca aj deh nih  cerpen, syukur mau merenungkanya,,,

SEORANG anak bertanya kepada neneknya:”Nenek,… itu apa?”Perempuan tua itu ternganga. Sebelum dia sempat membuka mulut, pertanyaan itu berkembang.”Nenek punya … tidak?”Orang tua itu kontan shock. Tetapi cucunya terus juga bertanya.”Sekarang Nenek punya berapa …?”Karena tak kuat menahan kekurangajaran itu, nenek itu langsung pergi meninggalkan cucunya. Ia mengungsi ke rumah tetangga. Ketika anak dan menantunya pulang, ia langsung melapor sambil menangis.”Anakmu kurang ajar. Pengaruh film, televisi, pergaulan bebas, dan narkoba sudah membuat dia bejat. Ajari anakmu moral, jangan hanya dikasih duit! Mau jadi apa dia nanti kalau sudah besar? Setan?”Menantu nenek, ibu anak itu langsung mencari anaknya. Tanpa bertanya lagi anak itu langsung diberinya hukuman.”Kamu sudah kurang ajar kepada nenek, mulai sekarang duit uang makan kamu dikurangi, sampai moral kamu lebih baik. Kamu harus belajar menghormati orang tua. Orang tua itu adalah asal muasal dan cikal bakal kamu, kamu sama sekali tidak boleh membuat orang tua marah. Sekali lagi kamu kurang ajar, ibu kirim kamu ke desa! Tidak usah membela diri!”Anak itu tidak berani menjawab. Tetapi ketika keadaan menjadi lebih tenang, dia menghampiri bapaknya, lalu kembali menanyakan pertanyaan yang belum terjawab itu.”Pak, — itu apa?”Bapak anak itu terkejut. Cangklong yang sedang diisapnya sampai terlepas. Tetapi ia mencoba tenang, lalu menjawab dengan taktis diplomatis:”Rambut adalah mahkota semua manusia. …. itu adalah mahkota wanita. Tempat dari mana kamu keluar dan ke mana nanti kamu akan masuk. Jadi ia mengandung pengertian sakral. Karena itu kamu tidak boleh mengutak-atik. Kamu harus menghormatinya. Dan, berhenti menanyakan itu, karena itu tidak untuk dikupas tetapi dirasakan. Paham?!”Anak itu tidak paham. Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia mendekati ibunya yang sedang menerima tamu. Ibunya langsung mengangkat tangan.”Tidak bisa!”Anak itu tertegun.”Aku tidak minta duit. Aku hanya mau tanya, apakah — ibu besar? Sebab, kalau tidak besar bagaimana nanti bisa keluar masuk? Kira-kira ukurannya berapa meter?”Merah padam muka perempuan itu. Sedangkan tamunya, ibu-ibu pejabat tak bisa menahan diri lalu tertawa sampai terkencing-kencing.”Anakmu sakit jiwa, karena kamu kurang perhatian. Kamu terlalu sibuk bekerja dan menganggap mendidik anak itu hanya kewajiban perempuan. Ini dia akibatnya sekarang!” kata ibu anak itu menyalahkan suaminya. “Sekarang sebelum terlambat, lebih baik kamu bawa dia ke dokter jiwa. Kalau tidak akan jadi apa anak ini! Akan jadi apa negeri ini kalau generasi mudanya sudah kurang ajar dan krisis moral?”Bapak anak itu tidak setuju dengan istrinya. Ia mencoba untuk melakukan pendekatan lain. Ia membawa anak itu ke kebun binatang.”Kamu bertanya apa itu mmk?” bisiknya kepada anaknya. “Nah, itu dia yang namanya mmk!”Bapak anak itu menunjuk kepada binatang-binatang yang ada di depannya. Ada kuda, badak, harimau, gajah, monyet.””Itu yang namanya mmk. Mengerti?!”Anak itu terdiam. Tetapi bukan karena mengerti. Ia bertambah bingung. Dalam perjalanan pulang ia kembali bertanya.”Apakah mmk itu manis sehingga sering dijilat-jilat?””Bangsat!” teriak bapak anak itu di dalam hati.Ia membatalkan pulang, langsung membawa anaknya ke dokter jiwa.”Dokter, anak saya ini sudah bejat. Tolong diperiksa apakah dia sudah dapat gangguan jiwa. Sebab segalanya sudah kami penuhi dengan berkecukupan. Sandang, pangan, bahkan sekolah yang terbaik dan termahal kami berikan. Mengapa dia jadi tumbuh seperti setan begini?”Dokter jiwa itu lalu memanggil anak itu masuk ke dalam kamar periksa. Dua jam kemudian dia keluar.”Bagaimana Dok?””Saya kira anak Bapak sehat walafiat.””Maksud saya jiwa dan moralnya?!””Ya, bagus. Saya hanya ada nasihat kecil.””Apa Dok?””Semua anak sampai usia tertentu seperti sebuah cermin. Dia merefleksikan dengan objektif apa yang ada di sekitarnya. Anak adalah pantulan langsung dari lingkungan dan orang tuanya. Jadi…. “”Jadi apa Dok?””Anak itu masih punya ibu?””Ada di rumah, kenapa Dok?””O, bagus kalau begitu. Jadi sebaiknya, sebelum saya melanjutkan pemeriksaan kepada anak itu, saya anjurkan supaya Bapak dan Ibu saya periksa terlebih dahulu. Makin cepat makin baik, sebelum menginjak ke stadium berikutnya.”Kontan bapak anak itu pergi.”Dokter gila!” umpatnya sambil membawa anaknya pulang. “Dasar mata duitan, anak gua yang bermasalah, gua yang mau dikobel-kobel. Kenapa bukan para elite politik yang sudah bikin kisruh negara ini saja yang mereka tuduh sebagai penyebab krisis moral anak ini. Gelo!”Suhu politik memanas. Para elite politik berperang. Dolar melambung tinggi. Persoalan itu untuk sementara dibekukan. Tapi, beku tentu saja tidak berarti sudah berakhir. Pertanyaan itu masih terus berkecamuk di kepala anak itu.Di sekolah, menjelang peringatan Hari Proklamasi ke-56, ketika guru sedang menceritakan tentang hakikat kemerdekaan, anak itu terus dikejar-kejar oleh pertanyaan tersebut.”Kemerdekaan adalah sikap jiwa,” kata ibu guru menerangkan kepada murid-muridnya. “Bila kemerdekaan kita diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, jangan dikira itu terjadi begitu saja. Cita-cita kemerdekaan sudah berlangsung puluhan tahun. Secara sporadis meledak di sana-sini yang dikategorikan sebagai pemberontakan oleh kolonial. Akhirnya mendapat kesimpulan pada tahun 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Dan, akhirnya mulai mendapatkan perumusan pada 1928, pada saat ada ikrar Sumpah Pemuda. Jadi kemerdekaan itu anak-anak, bukan hanya sebuah teriakan kebebasan, tetapi sebuah proses penyadaran tentang kemandirian. Dengan merdeka berarti nasib kita terletak di tangan kita sendiri. Dengan merdeka pada 17 Agustus 1945, tidak berarti kita jadi langsung kaya raya dan bahagia. Dengan merdeka kita justru menjadi melihat kemiskinan dan keterbelakangan kita. Kita melihat tanggung jawab kita. Dengan merdeka kita terikat oleh berbagai aturan yang kita buat sendiri untuk membatasi kemerdekaan kita agar bisa hidup bersama-sama. Merdeka adalah mendisiplinkan diri kita sendiri supaya bisa bekerja dan bersaing. Kalau tidak ada batasan-batasan, negeri ini akan jadi rimba dan memberlakukan hukum rimba, siapa kuat dia yang kuasa. Siapa yang kuasa dia yang makan. Jadi, kemerdekaan bukanlah kesempatan untuk berbuat sewenang-wenang. Kemerdekaan adalah pengorbanan karena itu merupakan penyadaran kepada aturan-aturan dan ketidakbebasan, yang kita sepakati dengan rela.”Bu guru selesai. Ia memandang seluruh kelas.”Ada yang belum jelas? Siapa yang mau bertanya?”Anak itu langsung mengacungkan tangannya.”Ya kamu. Apa yang belum jelas?””Saya mau tanya, Bu.””Ya boleh. Menanyakan apa?””Mmk itu apa?”Bu guru terhenyak. Seluruh kelas yang semula tidur tiba-tiba terbangun. Kemudian terdengar suara riuh rendah oleh ketawa. Kelas berubah menjadi pasar.Bu guru mengetok-ngetokkan penghapus papan tulis ke mejanya dengan keras.”Tenang!!!”Anak-anak langsung mengunci mulutnya. Bu guru kemudian bertanya lagi.”Apa?””Saya mau tanya, mmk itu apa??”Mata bu guru yang cantik itu terbelalak. Seluruh kelas yang tadinya cekakakan, sekarang tiba-tiba tegang. Bu guru menghampiri anak yang bertanya itu. Ia memandang tepat ke arah matanya. Anak itu gugup lalu menundukkan mukanya.”Ini pelajaran sejarah kemerdekaan dan kamu bertanya tentang….””Mmk.”Seluruh keras bertambah tegang. Terdengar bisik-bisik. Bu guru cepat melayangkan matanya ke seluruh keras sambil melotot. Semua murid menunduk menyembunyikan dirinya. Tak seorang pun kelihatan mau hadir. Hanya anak itu yang masih mengangkat kepalanya.Bu guru menghampiri anak itu, lalu menatap tajam seperti menusuk jiwanya.”Jadi itu yang buat kamu belum jelas?””Ya.””Kamu bertanya karena kamu tidak tahu atau?””Karena saya bingung.””Kamu bingung karena kamu ingin tahu?””Karena jawabannya tidak tegas sehingga tidak jelas.”Pensil di tangan bu guru jatuh ke lantai. Bu guru berjongkok. Seluruh anak-anak di dalam kelas, berdiri, menjulurkan kepalanya dan melihat apa yang jatuh. Tiba-tiba bu guru berdiri lagi sambil mengangkat roknya. Dari pinggang sampai ke bawah ia telanjang bulat.”Mmk itu ini!” katanya dengan tegas sambil menunjuk ke arah alat kelaminnya.Seluruh kelas meledak. Anak-anak perempuan menjerit dan menangis. Yang laki-laki meloncat, lari ketakutan keluar kelas. Sedangkan anak yang bertanya itu seperti disiram air panas. Seluruh tubuhnya tegang dan kemudian basah.Peristiwa itu dicatat sekolah sebagai huru-hara yang memalukan. Ibu guru yang cantik itu langsung dipanggil oleh Kepala Sekolah, lalu diskors. Para orang tua murid protes. Mereka menuntut supaya bu guru itu dipecat. Dan malam-malam, rumah bu guru itu berantakan karena dilempari batu. Surat kaleng dan telepon gelap dengan ancaman mengerikan menghujani rumahnya.Akhirnya Bu Guru MMK itu dipecat. Tapi sebagian masyarakat, berdasarkan polling yang dilakukan oleh media massa, menganggap hukuman itu belum setimpal. Mereka menuntut supaya guru yang bejat itu hengkang dari permukiman mereka. Dan, ketika yang bersangkutan akhirnya boyongan pindah ke kota lain, karena tidak mau mengganggu ketenteraman, di luar kota mobilnya dicegat. Dia dirampok, diperkosa, dan kemudian dicampakkan ke tepi jalan dalam keadaan tidak bernyawa.Di sebuah desa kecil yang terpencil dan sunyi, kini ia terbaring bisu, di bawah batu nisan yang tak bernama. Anak yang bertanya itu, bersimpuh sambil memegang sekuntum bunga. Di sampingnya, kedua orang tuanya berdiri menemani.”Terima kasib Bu Guru. Karena keberanian dan kejujuranmu, sekarang anak kami tidak bertanya lagi. Tetapi alangkah mahalnya kebenaran, kalau hanya untuk menjelaskan satu kata saja, diperlukan sebuah nyawa.”Jakarta 19-08-01


Comments (2) »

MARAH,,,

di bawah adalah sebuah sudut pandang tentang marah.

-----------

Jangan marah ya..
Jangan marah!
JANGAN MARAH!

Apakah ada sebuah pribadi normal yang tidak pernah atau tidak akan pernah 
marah, seumur hidupnya?
Pasti tidak ada!
Kita, Anda dan saya, tidak akan pernah dapat menemukan sebuah pribadi yang 
tidak pernah marah dalam hidupnya.

Sebagai sebuah keniscayaan alamiah, setiap pribadi yang hidup akan mengalami 5 
kondisi emosional : marah, jatuh cinta (syahdu), cemburu, sedih dan gembira.
Jika begitu, apakah makna sesungguhnya dari tiga kalimat di atas?

Mohon Anda berkenan memperhatikan bahwa:
Walau menggunakan kata jangan, bukan berarti dilarang, tidak boleh, forbidden, 
haram dan melanggar hukum.
Kata jangan pada kalimat itu ditujukan sebagai anjuran, tindakan preventif dan 
merupakan bagian dari early warning system (peringatan dini) moralitas 
kemanusiaan.

…..

Sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa kemarahan adalah kesedihan yang 
terbakar.  Dan sesuatu yang terbakar, memiliki atau memancarkan energi yang di 
atas ambang batas biasa.
Untuk kita sadari bersama, kita hanya akan mampu melompat (melewati apapun), 
jika kita memiliki energi ekstra.
Kita akan lari lebih kencang dari biasanya, jika ada seekor anjing mengejar 
yang ukurannya mampu menaikkan andrenalin kita ke level di atas biasa.
Kita akan berupaya lebih keras dari biasanya, jika ada keterdesakan yang 
menyesakkan dada.

Anda mungkin akan lebih keras meningkatkan kualitas diri, ketika Anda sangat 
marah melihat kenyataan bahwa :
-          gaji Anda lebih rendah dari rekan yang kualifikasinya lebih rendah
-          pangkat Anda lebih rendah dari rekan sekolah (atau kuliah) Anda
-          Anda lebih pantas bagi jabatan atasan Anda.

Pokoke : Seringkali kita harus marah untuk mencapai kualitas lebih baik, karena 
secara alamiah kita membutuhkan tambahan energi untuk melakukan hal-hal yang 
lebih.

…..

Menurut catatan statistik populasi manusia di dunia ini, jumlah orang yang 
dimarahi jauh lebih banyak dibandingkan orang memarahi.  Mungkin logika 
sederhananya, pribadi yang tidak memiliki atasan itu sangat-sangat terbatas.  
Bahkan biasanya pada satu organisasi hanya satu atau dua orang.
Kemudian catatan selanjutnya, diketahui bahwa bagi banyak perasaan pribadi, 
dimarahi itu tidak nyaman.

Hal menarik adalah catatan cermin.  Menurutnya, sebenarnya bukan hanya yang 
dimarahi yang tidak nyaman; bahkan yang memarahi-pun, tidak akan nyaman melihat 
tampang wajahnya sendiri.
Itulah sebabnya, mengapa seseorang yang sedang marah menjauhi cermin.

Mengapa?

……

Karena banyak pribadi yang membingkai marahnya dengan perilaku kasar dan tidak 
mulia.

Yang ditakuti bukan marahnya, melainkan perilaku kasarnya.
Yang tidak mudah diterima itu bukan marahnya, melainkan perilaku merendahkannya.
Yang menyakitkan hati itu bukan marahnya, melainkan pilihan kata-kata buruk 
yang dilontarkannya.
Yang tidak dapat dimaafkan itu bukan marahnya, melainkan keangkuhannya
Yang tidak sedap dipandang mata itu bukan marahnya, melainkan mimik mukanya.

Pilihan kata, pilihan perilaku, pilihan sikap, plihan raut muka tidak ada 
hubungannya dengan kondisi emosional marah.
Karena kondisi emosional lainnya (gembira, cemburu, sedih dan syahdu) pun, 
dapat diikuti oleh hal-hal buruk atau mulia.
Juga karena banyak pribadi yang marah tetapi tetap santun, hormat, lembut dan 
ramah.

Bukankah yang lebih ditakuti adalah seseorang yang menembak mati lawannya dalam 
keadaan tersenyum…

…………..

Jadi, marah itu barus.. baik dan harus.
Hanya saja pastikan Anda membingkainya dengan perilaku atau sikap yang santun, 
hormat, lembut dan penuh kemuliaan.

………….

Sahabat-sahabat terima kasih atas kesediaan Anda meluangkan waktu untuk membaca 
sudut pandang di atas.Semoga dapat melengkapi sudut pandang Anda.

Leave a comment »